Sabtu, 08 Maret 2014

Suami Menjadi Partner Bisnis




Suami bisa menjadi patner bisnis yang sukses asal tahu kapan menempatkannya sebagai suami, ayah dari anak-anak, dan sebagai patner bisnis. Ini caranya?
  • Senang dan jaga komitmen. Pilih bisnis yang Anda atau suami sukai. Ini akan membuat pekerjaan tidak membebani, tapi menyenangkan dan Anda tetap bersemangat ketika menghadapi rintangan. Jangan meniru bisnis teman yang sukses membuka bengkel,  padahal Anda tidak menyukainya. Anda juga harus berani mematuhi komitmen yang sudah dibuat bersama pasangan. Misalnya, jika Anda berkomitmen untuk mencatat uang yang diambil dari hasil bisnis untuk  kepentingan rumah tangga, lakukan itu secara konsisten.
  • Mulai dari yang sederhana. Pilih jenis usaha yang sederhana dengan risiko sedikit. Jika ingin serius bisnis, lebih baik jika salah satu dari Anda tetap bekerja  untuk  menjamin kebutuhan sehari-hari. Ini penting agar keuangan keluarga tidak terganggu dengan keuangan bisnis dan Anda  punya dana darurat. Buat perencanaan dan konsep bisnis. Banyak orang yang mengeluh ingin bisnis,  tapi tidak punya modal. Sebenarnya bukan modal kendalanya, tapi konsep yang tidak jelas!    
  • Menentukan modal. Harus ada kesepakatan berapa besar modal yang dikeluarkan masing-masing. Besarnya jumlah modal awal tergantung dari kemampuan Anda berdua dan jenis bisnis. Jika masih coba-coba, tak perlu pinjam modal dari pihak lain dulu. Pinjaman modal bisa digunakan untuk mengembangkan bisnis yang sudah berjalan setidaknya dua tahun. Agar manfaat modal  maksimal, buat perencanaan keuangan. Tentukan, modal awal dan modal operasional bisnis terpisah dari keuangan keluarga. Ini untuk menghindari kesulitan mengetahui omzet. Jadi, buat rekening keuangan keluarga dan rekening bisnis. Sebaiknya, jangan mencampuradukkan barang dagangan dan barang konsumsi keluarga.
  • Pembagian tugas dan aturan yang jelas. Sebelum mulai bisnis, tetapkan pembagian tugas dan aturan main yang jelas. Kenali keahlian masing-masing. Hal  ini akan memudahkan dan memperkecil risiko konflik. Kemudian putuskan,  siapa  yang menjadi bos, yang berfungsi  mengarahkan dan mengambil keputusan. Selain itu, buat aturan main salah satunya memisahkan antara family time dan work time.  Misalnya, jangan bicarakan bisnis di  tempat tidur, saat liburan bersama anak, dan di meja makan. Sejak awal buat jam kerja dan waktu liburan. Intinya, jangan sampai  menyita seluruh hidup Anda.
  • Pengasuhan anak. Jika sudah ada anak, bicarakan pengasuhannya sejak awal. Jika pengasuhan anak pada Bunda, sebaiknya suami mengurangi beban tanggung jawab Bunda di bisnis yang memungkinkan bisa bersama anak. Jika perlu, bisa gunakan jasa baby sitter atau ART untuk membantu pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Malam hari adalah waktu Anda berdua berkumpul  dengan  anak.(me)

    AyahBunda.co.id
    gambar: hearthomemag.co.uk



0 komentar:

Posting Komentar